Terkadang berfikir, kenapa baru pada abad ke 4 sejarah Nusantara ditemukan. Padahal sebelumnya, penanggalan Saka (Jawa/Nusantara) dimulai pada tahun 78 M, hal tersebut menunjukkan bahwa peradaban Nusantara sudah cukup maju, sejajar dengan bangsa Romawi, Mesopotamia, Mesir, dan Cina. Yang paling membuat Saya tertarik adalah ditemukannya sebuah penemuan di Persia, tepatnya di daerah Terqa, Eufrat Tengah, berupa fosil tanaman cengkeh berusia 1700 SM oelh arkeolog Giorgio Buccalleti. Padahal seperti yang kita ketahui, tanaman cengkeh, pada dulu kala, hanya tumbuh di kepulauan Maluku, Nusantara. Begitu juga sebaliknya, ditemukan beberapa barang-barang yang berasal dari Persia di Pulau Timor. Bahkan seorang arkeolog Inggris, Julian Reade, menemukan sisa fosil biri-biri berusia 1500 SM, padahal pada masa itu, biri-biri berasal dari Persia. Penemuan-penemuan tersebut meyakinkan Saya bahwa pada masa lampau Nusantara memiliki teknologi dan armada pelayaran yang sangat luar biasa, jauh sebelum bangsa Mesir, Persia, dan Cina. Dan kemudian ditemukan juga pula fosil perahu (jong) yang ukurannya sungguh mencengangkan pada masa itu, pada sekitar tahun 250 M, perahu kayu dengan ukuran panjang 60 meter dengan tinggi 9 meter (lupa di daerah mana).
Dalam kitab Ramayana karya Valmiki, yang menurut sejarawan ditulis sekitar 500 SM, dikatakan bahwa "Yavadwipa (pulau Jawa) dihiasi oleh tujuh kerajaan, pulau emas dan perak, kaya akan tambang emas, dan di situ terdapat gunung Cicira (dingin) yang menyentuh langit dengan puncaknya". Marco Polo menceritakan mengenai keadaan pulau Jawa sebagai berikut, "Jumlah emas yang dikumpulkan di sana (Jawa) lebih banyak daripada yang dapat dihitung dan hampir tak dapat dipercaya. Kemudian dari tempat itulah para pedagang dari Zai-tun dan Manji mengimpor logam mulia, yang menurut ukuran impor pada masa kini, jumlahnya sangat besar." Sementara, pada abad ke 12, penulis Cina mengatakan bahwa, "Dari semua kerajaan asing kaya raya yang memiliki simpanan barang-barang berharga dan banyak macamnya (devisa), tidak ada yang melebihi bangsa Arab, Jawa, dan Sriwijaya."
Tentunya juga kita masih ingat, oleh berbagai ahli geologi, sejarah dan arkeologi, bahwa Nusantara merupakan Atlantis yang disebutkan oleh Plato. Hal ini diperkuat oleh analisis mendalam dari Profesor Brazil, Prof. Arysio Santos. Apakah berbagai bukti sejarah bumi Nusantara ini hilang dikarenakan bencana alam yang hebat, seperti letusan gunung Tambora, Krakatau, ataupun kaldera super Danau Toba. Salah satunya adalah bahwa, candi Buddha terbesar, Borobudur, baru ditemukan pada abad ke 19 yang tertimbun oleh letusan gunung Merapi serta dipenuhi dengan semak belukar. Hal ini menimbulkan banyak pertanyaan, apakah masyarakat Nusantara begitu mudahnya melupakan sejarahnya? Ataukah memang ada beberapa kerajaan, dimasa lampau, yang sengaja menghilangkan sejarah besar bumi Nusantara ini. Hal ini terlihat dari setiap penaklukkan suatu kerajaan oleh kerajaan lain, maka dilakukan pula penghancuran pusat pemerintahan, pusat peribadatan, dan pembantaian para petinggi kerajaan yang diserang. Berbagai kemungkinan tersebut dapat dengan jelas tergambar dari berbagai peninggalan besar seperti candi, prasasti, dan sejarah kerajaan yang justru ditemukan kembali oleh para sejarawan atau arkeolog dari luar negeri.
roy-darmawan,blogspot.com






0 komentar:
Posting Komentar